Lembah Bawakaraeng

Lembah Bawakaraeng
Berhenti sejenak untuk mengabadikan perjalanan di Talung yang berlatar lembah ramma.....

Jumat, 18 November 2011

Amalan yang Sia-sia





sejak  lahir hingga saat ini, aku sebagai hamba yang hina dina dihadapan Allah telah di amanahkan amalan ibadah yang harus di laksanakan selama berada di jembatan yang rapuh sekarang ini. Tapi terkadang amalan itu ku abaikan dengan asyik dengan fatamorgana yang selalu diperlihatkan oleh alam semesta  sehingga aku merupkan seorang hamba yang benar-benar berani menolak rahmat Allah SWT.
Akhirnya kesadaran itupun menghampiriku bahwa amalan itu mutlak harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh pengharapan untuk mendapatkan hidayah dari tuhanku tentang makna kehidupan yang hakiki. Amalan buruk sangat jelas tidak memberikan manfaat yang baik untuk kehidupamn ini, amalan baik berbanding terbalik dengan amalan buruk. Amalan baik kulakukan sesuai dengan pengetahuan yang kudapatkan tentang amalan itu sendiri, tapi masalah baru timbul yang membuat amalan baik yang kukerjakan menjadi sia-sia itu karena penyakit hati yang belum bisa ku kekang agar tidak menjadi boomerang dalam beribadah kepada Allah SWT. Amalan baik apapun yang kita lakukan tidak akan mebuahkan hasil yagn bermanfaat selama amalan tersebut masih dibayang-bayangi oleh syirik khafi.
Setiap perbuatan memiliki maksud dan tujuan tertentu, maka wajarlah perbuatan manusia tidak dilakukan karena kebetulan tapi memang direncankan sebelumnya. Kebetulan Cuma berlaku bagi kehidupan manusia yang tidak melihat setiap kejadian secara radikal. Maka berharaplah bahwa Allah selalu membimbing kita menuju ke jalan yang sempurna.


Rabu, 16 November 2011

hakikat kehidupan

Bismillahi rahmanirahim....
Segala puji bagi Allah semata...
Salawat kepada nabiullah Muhammad SAW....

Banyak orang berkata bahwa hidup di dunia hal yang harus dilakukan adalah bertanggung jawab dengan apa yang kita perbuat, karena manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Tapi tak jarang kita temui orang yang sangat fasih menjelaskan problematika kehidupan yang jarang menyinggung hakikat kehidupan, padahal hal itu sangat menentukan kedudukan seorang insan di hadapan tuhannya.

SEGALA SESUATU ADA KETENTUANNYA

               Tidakkah engkau tahu bahwa segala sesuatu sudah ada ketentuannya, dan segala musibah serta kesulitan memiliki tujuan, akhir, dan manfaat. Tidak bisa dipercepat maupun ditunda? saat datangnya musibah tidak mungkin menjadi saat sehat, waktu sengsara tidak mungkin berubah menjadi kesenangan, dan keadaan fakir tidak akan menempati keadaan kaya.

                Maka indahkanlah sikap dan tingkah lakumu : senantiasa diam, sabar, ridha, dan menerima apa saja yang datang dari tuhanmu. Bertobatlah kepadanya dari kedurhakaan dan tuduhan jelekmu atas perbuatannya. Tidak ada tuntuntan tanggung jawab maupun pembalasan terhadap tuhan tanpa jatuh kedalam dosa, berlawanan dorongan fitrah yang ditemukan pada hubungan antae sesama hambanya.
(syaikh Abdul Qadir Al-Jailani)                                                      
                                                                                                                TO BE CONTINUE...

fatamorgana kehidupan


Ketika mataku terbuka untuk mellihat dunia maka ketika itu ku sadar bahwa banyak tanggung jawab yang harus dilakukan dalam hidup ini. Banyak hal yang belum ku pahami, lalu aku mencoba untuk mencari apa yang belum ku pahami dengan  melihat, mendengar, merasa, membaca, menganalisa, ataupun berfikir secara rasional. Kehidupan ini terlalu berat untuk kujalani dengan banyak hal yang masih sulit untuk kupahami tapi alhamdullillah ada hidayah yang kurasakan dari sang khalik berupa tuntutan untuk selalu mengingatnya disegala bentuk keadaan dan waktu. Hadirnya ilmu merupakan kenikmatan yang luar biasa dengannya kita bisa memahami kehidupan ini.
Perjalanan hidup tidak semudah yang selama ini kupahami, tanggung jawab secara horisontal maupun secara vertikal merupakan hal mutlak yang harus dilakukan sebagai makhluk yang diciptakan paling sempurna oleh sang pencipta. Lalu aku bertanya manakah yang harus didahulukan ibadah horisontal atau vertikal atau apakah harus sejalan? Seperti ucapan “seimbangkan dunia dan akhiratmu”. Sesungguhnya Allah akan memberi cobaan kepada hambanya sesuai dengan kemampuannya baik secara lahiriah dan batiniah, tapi terkadang ku merasa cobaan ini berat untuk dijalani yang sesungguhnya perasaan seperti ini tidak patut ada dalam diri makhluk yang senantiasa diharuskan untuk beribadah.
Dunia sekarang ini teralu banyak kebohongan yang disebabkannya, mulai kesenangan semu sampai fasilitas yang disalah gunakan. Ada keraguan yang timbul dalam diriku ketika pengetahuan mulai kusadari, apakah benar rahmatulah atau hanya bisikan iblis laknatullah. Bagiku  Terlalu buruk tempat ini untuk mencari bekal, dia memberi kesenangan yang bersifat fana jadi wajarlah kalau tempat itu dianggab sebagai jembatan untuk dilewati. Sebagai makhluk yang diciptakan aku selalu bertanya, apakah kutelah menyembah kepada illahi sebagai mana yang telah ditentukannya. Syariat agama terlalu berwarna untuk disimak maka wajarlah jika timbul banyak perbedaan di antara hamba yang merasa menyembah tuhan yang tunggal. Dunia mereduksi yang kupahami dari kebenaran hakiki, kebenaran dunia hanya sementara.
Malam hari merupakan waktu yang cukup untuk aku bermunajad dengan tuhanku tapi sayangnya sifat iblis dalam diriku lebih besar pengaruhnya daripada sifat malakut. jadi untuk memanfaatkan waktu itu semaksimal mungkin maka ku harus bisa untuk menafikan sifat iblis yang bersemayam dalam diriku, mencoba untuk memahami intruksi malaikat ataupun rahmat yang maha suci. Malaikat merupakan contoh yang nyata bagi manusia begitu juga dengan diriku bahwa banyak                pelajaran yang bisa dipetik mulai dari iman, ketakwaan, dan selalu berzikir kepada Allah. Makanya ku harus berusaha untuk memahami dan semoga hadirnya pengetahuan bisa membawa ku kepada keimanan dan ketakwaan kepada Alllah SWT.